Dibelakang rumah, ku bermain main dengan ayam-ayam, melempar lempar pakan kesana kemari, membuat sang induk ayam bolak balik di ikuti anak-anaknya dengan ceria.
"iz, faiiz. . . "
suara ibu memanggil dari dapur, aku segera bangkit menuju dapur, menolehkan kepalaku disela sela pintu.
"nggeh bu, ada apa?"
"bisa bantu ibu? tolong kasih ini ke rumah mbah Rus." jawab ibu sambil memberikan rantang sayur kepadaku.
"ooh, iya bu"
Baru beberapa langkah aku ingin beranjak, aku terdiam dan muncul rasa ingin bertanya.
"ah sudahlah, sepertinya tak perlu", pikirku.
##
tok...tok ...tok.....
"Assalamu'aalaikuum"
"wa'alaikum salam..." sahutan dari dalam rumah, terdengar suara sandal menghampiri pintu, rumah mbah rus memang belum direnovasi, masih beralas tanah, air tumpah pun langsung meresap, tanpa perlu dilap. kata ibuku, dulu sudah ada sanak saudaranya yang ingin memperbaiki, namun mbah Rus menolaknya dengan ramah, ia tak ingin kehilangan memori ketika ia masih bersama almarhum istrinya.
"ooh, nak faiz. . .tak kira ulfa" ucap mbah Rus setelah membuka pintu.
"Emangnya dek ulfa kemana mbah?"
"tadi tak suruh beli bubur, udah lama tapi kok belum pulang ya..?"
Pandangannya menerawang kedepan, seakan cemas dengan cucu satu-satunya yang tinggal bersamanya. Aku ikut terdiam, mencoba memikirkan cucunya yang tak kunjung datang.
"Eh, iya mbah.. ini ada titipan sayur dari ibu" hampir saja aku lupa rantang hijau yang kubawa.
"duh.. ibumu ini kok selalu saja repot-repot gini, mbah kan masih bisa masak iz.."
"Nggeh mboten nopo nopo to mbah"
"Yaa, terima kasih..jazakumullah"
"nggeh pun mbah, kulo pamit riyen nggeh, Assalamu'alaikum" pamitku.
"wa'alaikumsalam"
##
selang beberapa saat ku sampai rumah, baru saja ingin duduk, sebuah teriakan mengagetkanku.
"Ada yang ketabrak, ada yang ketabrak...!!" ucap seseorang diluar rumah sambil lari dengan beberapa orang.
"Haah???" perasaanku mulai tak enak, tiba-tiba seserang terbayang dalam benakku.
"ulfa????"
suara ibu memanggil dari dapur, aku segera bangkit menuju dapur, menolehkan kepalaku disela sela pintu.
"nggeh bu, ada apa?"
"bisa bantu ibu? tolong kasih ini ke rumah mbah Rus." jawab ibu sambil memberikan rantang sayur kepadaku.
"ooh, iya bu"
Baru beberapa langkah aku ingin beranjak, aku terdiam dan muncul rasa ingin bertanya.
"ah sudahlah, sepertinya tak perlu", pikirku.
##
tok...tok ...tok....."Assalamu'aalaikuum"
"wa'alaikum salam..." sahutan dari dalam rumah, terdengar suara sandal menghampiri pintu, rumah mbah rus memang belum direnovasi, masih beralas tanah, air tumpah pun langsung meresap, tanpa perlu dilap. kata ibuku, dulu sudah ada sanak saudaranya yang ingin memperbaiki, namun mbah Rus menolaknya dengan ramah, ia tak ingin kehilangan memori ketika ia masih bersama almarhum istrinya.
"ooh, nak faiz. . .tak kira ulfa" ucap mbah Rus setelah membuka pintu.
"Emangnya dek ulfa kemana mbah?"
"tadi tak suruh beli bubur, udah lama tapi kok belum pulang ya..?"
Pandangannya menerawang kedepan, seakan cemas dengan cucu satu-satunya yang tinggal bersamanya. Aku ikut terdiam, mencoba memikirkan cucunya yang tak kunjung datang.
"Eh, iya mbah.. ini ada titipan sayur dari ibu" hampir saja aku lupa rantang hijau yang kubawa.
"duh.. ibumu ini kok selalu saja repot-repot gini, mbah kan masih bisa masak iz.."
"Nggeh mboten nopo nopo to mbah"
"Yaa, terima kasih..jazakumullah"
"nggeh pun mbah, kulo pamit riyen nggeh, Assalamu'alaikum" pamitku.
"wa'alaikumsalam"
##
selang beberapa saat ku sampai rumah, baru saja ingin duduk, sebuah teriakan mengagetkanku.
"Ada yang ketabrak, ada yang ketabrak...!!" ucap seseorang diluar rumah sambil lari dengan beberapa orang.
"Haah???" perasaanku mulai tak enak, tiba-tiba seserang terbayang dalam benakku.
"ulfa????"
0 komentar:
Posting Komentar